Thursday, 23 December 2010

Wednesday, 7 July 2010

L' Appartemant 1507 #002

Berjam-jam setelah serangan pertama tadi pagi itu, aku masih saja mondar mandir di ruang apartemen. Membuka kardus itu, menyimpan ini, menggeser itu. Dan akhirnya setelah lelah menyerang, ruang berukuran 4 x 7 m ini bisa juga terasa nyaman. dan entah kenapa, meski apartemen ini belum juga genap seminggu kutempati namun terasa familiar dan menyenangkan.

Aku melayangkan penglihatanku ke segenap ruang pandang. dinding apartemen yang putih ini hanya terganggu sebuah lukisan abstrak yang dilukis sahabatku. Dari tempatku duduk, aku bisa melihat ke arah pantry di sebelah pintu masuk, lalu ke meja makan yang di tata sekenanya. Di depanku ada tiga buah pintu. Satu pintu kamarku, satu pintu ruang kerjaku dan satu lagi adalah pintu kamar mandi.

Aku menjatuhkan pandang pada pintu ruang kerja yang terbuka. semua harta karunku ada disana. Harta karun? Ya, Harta karun! Buku-buku yang sudah jadi koleksi dari jaman aku SD dan termasuk juga memento dari pacar pertama hingga memento dari lelaki itu.

Drrrrt..drrrt

Aku menoleh ke sumber suara rupanya ponselku bergetar di meja makan. aku beranjak.

One Message Received.

Menghela nafas seketika begitu melihat nama yang tertera dibawahnya. Papa.

"Pulang jika kamu lelah disana."

Pendek dan tanpa tedeng aling-aling. Begitulah Papa. Tapi kata-katanya selalu mengena.

Aku beranjak ke pantry, si dapur mini yang hanya terdiri dari dua konter itu. kompor dan wastafel. mengobrak-abrik lemari di atasnya. hanya ada gula, kopi dan teh. ah dan seperangkat alat makan plus masak. tentu saja. Lantas aku membuka kulkas. Kosong. Padahal perutku minta diisi. Terlalu lelah untuk pergi akhirnya aku memutuskan menggunakan jasa delivery.

Sambil menanti makanan yang katanya diantarpaling lama 45 menit lagi itu, pikiranku kembali pada pesan singkat papa.
Lelah disini? tentu saja. Namun aku takkan menyerah. belum. menjadi bumil tanpa suami memang tidak mudah. meski usia kehamilanku masih sangat dini namun beratnya mulai terasa. pening dan muntah-muntah hampir setiap pagi kujalani. belum lagi pantangan makan sana-sini.

Namun demi janin ini, aku akan tetap bertahan. aku akan membuktikan bahwa tanpanya pun aku masih bisa melahirkan sendirian.merawat dan membesarkannya sendirian!

Rasanya pertengkaran itu baru terjadi kemarin. pertengkaran yang membuat aku dan pria itu berpisah jalan. Aku tersenyum sendiri, bukan karena lucu. Tapi ngilu. Dan sejuta kenangan tiba-tiba saja membanjiri sebelum aku mampu menegakkan benteng hati.

Ting Tong.

Bel pintu depan berbunyi. itu pasti makanan yang kupesan melalui delivery. Aku membuka pintu pada orang pertama yang bisa mengintip di apartemenku. Mas-Mas delivery itu pergi setelah melaksanakan kewajiban dan meminta haknya. Namun sebelum pintu ditutup aku sempat melihat seorang perempuan muda tergesa menuju lift. wangi parfumnya sempat hinggap di penciumanku. wangi yang manis.

Tuesday, 6 July 2010

L' Appartemant 1507 #001

Semburat cahaya masuk perlahan melalui celah gorden kamar. Aku membuka mata sedikit, melirik pada weker kecil di nakas sebelah tempat tidur. Jam 8. WHAT?! Jam 8?! aku tergeragap sendiri. Segera bangun dari tempat tidur dan melangkah menuju dapur. aku langsung terhenyak begitu mencapai ambang pintu. Masih ada tumpukan kardus disana-sini. beberapa furnitur bahkan masih memakai plastik. Aku terduduk lemas di lantai. menghela nafas dalam-dalam dan menyibak poni yang mulai menutupi mata.

Old habits die hard.

Akhirnya aku berdiri, kembali ke kamar dan membuka gorden jendela. Cahaya matahari Bandung menembus ke dalam kamar, membuatku menyipitkan mata. Silau.

Tanpa berpikir aku menuju ke ruang dapur. menjerang air di sebuah teko dan membalikkan badan pada ruang berantakan. Kardus coklat menggunung di sudut ruang, ada beberapa kardus coklat lagi yang terserak di lantai, setengah terbuka. Mataku lantas menjelajahi ruangan itu, ada tiga pintu berjejer meski yang satu agak menjorok ke dalam. Dua diantaranya adalah ruang tidur dan yang pintunya menjorok ke dalam itu kamar mandi. Tepat di depanku adalah sebuah ruang lapang, hanya terisi meja, beberapa kursi dan.. kardus-kardus itu. Aku menghela nafas. Ini akan menjadi hari yang panjang untuk membereskan semuanya.

Suara nguung yang akrab di telinga menyadarkanku. Aku mematikan kompor, mengambil mug putih di lemari dan tanganku yang satu lagi mengambil stoples berisi bubuk kopi. Hmm Kopi? lantas terngiang di telingaku wejangan perempuan itu "usahakan jangan minum kopi dan merokok ya" lagi-lagi aku mendesah. Tanganku kini mengambil teh celup di stoples yang satu lagi. Masukkan tiga sendok teh gula ke dalam gelas, isi air, celupkan teh, jangan terlalu kental, lalu aduk. Voila, jadilah teh manis panas ala chef Ziantine Larasati.

Aku tersenyum sendiri memandang teh yang baru aku buat. seakan-akan itu sebuah masterpiece agung. Lalu, dengan hati-hati aku menyeruput minuman manis itu. Hmm, teh hangat ternyata cukup nikmat untuk membuka hari. Satu detik, dua detik aku meresapi kehangatan teh yang menjalar hingga dada sebelum hantaman lain menyerang dari bawah. tergesa-gesa, aku berbalik, menjangkau wastafel dan HOEK!

selamat datang morning sickness.


Ziantine Larasati